Cerpen Islam

Kekuasaan Allah Tak Tertandingi



          Aku sekolah disini. Sekolah negri. Namaku Kevin. Aku punya sahabat, namanya Vikra, Dimas, Aldy. Aku selalu bersama. Saat aku sedang duduk di kelas, aku bertemu vikra sedang baca buku pelajaran. “Vikra, nanti ke took buku yaa?” ajakku pada Vikra. “boleh, aku juga sekalian mau nyari buku paket” jawab Vikra. “sama donk, hahahaha. Yaudah, sepulang sekolah aku tunggu kamu di gerbang. Jangan lupa yaa” ucapku selanjutnya. Aku pun keluar kelas.
          Sepulangnya dari sekolah, aku menunggu Vikra di depan gerbang. Tak lama kemudian, Vikra muncul dari lantai dua. “hayu, kita berangkat.” Ajaku. Sebenarnya aku cukup bangga bawa cewe cantik sahabat aku jalan berduaan. Jarang-jarang cowo ngajak Vikra jalan pasti berhasil. Di jalan, aku mengobrol. Setelah lama ngobrol, akhirnya aku sampai di toko buku. Aku dan Vikra pun masuk. Aku sama Vikra berpencar nyari buku-buku yang di cari masing-masing. Aku mulai mencari. Setelah lama mencari, aku menemukan buku LKS yang aku cari. Saat aku mengambi bukunya, dibawah buku itu ada buku berover merah maroon polos. ‘Buku apaan nih?’ pikirku dalam hati. Karena penasaran, aku membeli bukunya. Kulihat Vikra belum selesai mencari bukunya. Aku menunggu sambil sedikit membaca buku polos itu. ‘Ini sih bahasa campuran Venezuela sama Uganda. Aku belum ngerti semuanya sih, Cuma dikit-dikit’ pikirku dalam hati. Kulihat Vikra mendapatkan bukunya dan sudah membayar. “hayu Vik, mau dianterin pulang?” tanyaku. “bolehlah, lumayan menghemat uang, hehehehe” jawab Vikra cengengesan. Aku dan Vikra pun masuk Mobil. Di dalam mobil, aku dan Vikra ngobrol sama cerita-cerita. Tak terasa, sudah sampai di depan rumah Vikra. “Vik, dah nyampe nih. Salam buat ibu sama bapak kamu yaa” ucapku. “iya, Kevin… makasih yaa” jawab Vikra. Aku pun pulang. Mobil melesat menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju computer dan menartikan  buku itu dan mencatat ulang artinya di buku kosong. Setelah diartikan, ternyata itu buku Sihir. Aku sedikit gak percaya, ‘mana mungkin zaman gini ada Sihir?’ ucapku dalam hati. Aku ingin ngasih tahu ke sahabat-sahabatku…
          Keesokannya, aku berkumpul sama sahabt-sahabtku. “eh, kalian percaya gak, kalo gue punya buku Sihir?” tanyaku pada semuanya. “mana ada zaman gini ada buku sihir? Hahahhaaa…ngaco lu” jawab Dimas. “emang kamu udah nyoba?” Tanya Aldy. “belum sih, makanya aku ngajak kalian buat nyoba Sihir di buku Sihir ini” ajakku. “boleh, aku mau nyoba. Tapi ngumpul dimana?” Tanya Vikra. “dirumah aku. Mumpung lagi ga ada Ortu. Gimana?” usulku. Mereka pun setuju. Sepulang sekolah, mereka menuju kerumahku. Sesampainya di rumahku, aku langsung memperlihatkan buku itu ke semuanya. “Vin, itu kan buku kemarin yang kamu beli kan?” Tanya Vikra padaku. “iya, tapi kemarin aku belum tau artinya” jawabku. Aku juga memperlihatkan buku arti tulisan dari buku merah maroon nya. Kelihatannya, teman-temanku tertarik. “ayo mulai! Tunggu apa lagi?!” ucap Dimas. Kita semua mulai mencoba mantra-mantra sihir. Alhasil, berhasil. Aldi memakai mantra mendorong benda. Dia mendorong gabus. Dorongannya seperti tembakan peluru. Kuat sekali. Kulihat Vikra memakai mantra pelindung. Tiba-tiba muncul seperti tameng transparan. Keren sekali. Mereka mulai menghafal. Dimas memakai mantra menggerakkan Benda. Dia menggerakan buku merah dan merebut bukunya dari semuanya. “hahahhaa… Mantranya bagus, bisa buat nyopet” ucap Dimas gembira. Lima jam dirumahku, mereka izin pulang. Mereka pun pulang.
          Keesokannya, aku datang sangat pagi ke sekolah. Aku mau mencoba mantra seperti pelindung, perubahan, mendorong benda, meledakan benda. Hanya itu yang aku bisa. Sahabat-sahabatku belum datang sampai jam pertama. ‘ah, kayanya sahabat-sahabatku sakit. Aku ingin menjenguknya’ ucapku dalam hati. Sampai dirumah Aldy, tidak ada orang. Begitu pula dua sahabat yang lain. ‘aneh, pada kemana sih?’ pikirku. Aku memutuskan pulang jalan kaki. Saat di tengah jalan, tiba-tiba ada angin semilir yang membuatku mempunyai firasat buruk. Tiba-tiba, diatas pohon, ada Dimas dengan wajah seperti kesurupan berbicara kepadaku. “Kevin, serahkan buku merah maroon itu padaku. Tuhanku menginginkan buku itu. Kalau tidak, kau akan ku bunuh!” ucap Dimas tegas. Tiba-tiba, muncul Vikra dan Aldy. Mereka semua seperti ada yang mengendalikan. “Aku ga tahu apa yang kamu omongin itu, siapa tuhanmu. Aku takkan memberikan buku itu” ucapku. Mereka bertiga langsung menggunakan sihir menggerakkan benda. Mobil, motor dan truk melayang kea rah ku. Aku langsung memakai mantra pelindung, lalu memakai mantra peledak. Tinggal motor yang belum aku tangkis. Aku pun terkena lemparan motor itu. Seketika aku tak sadarkan diri.
          Warga menolongku dan membawaku kerumah. Aku dibaringkan di kursi sofa. Bibi Sulem, pembantuku mengobatiku. “de, kenapa bisa babak belur gini?” Tanya Bi Sulem. “tidak, bukan apa-apa” jawabku letih. “ga mungin, pasti ada apa-apa nih?”lanjut Bi Sulem. “ada sih, tapi bibi jangan bilang ke mamah dan papah ya?” ucapku. “iya, cerita aja!” jawab Bi Sulem. Aku pun menceriakan semuanya. Setelah aku bercerita, “itu sih ada yang ngendaliin. Kalo mau nyadarin sahabatmu, kalahin dulu yang ngendaliinnya” usul Bi Sulem. “tapi mereka bertiga, tapi aku…?” ucapanku terpotong. “kau lebih kuat dari mereka, mintalah kekuatan pada yang menciptakanmu” kata Bi Sulem. “Allah, iya bener. Aku ingin tobat dan menyadarkan tiga sahabatku” semangatku. Bi Sulem, pergi kebelakang menyiapkan makan siang. Aku seketika berdo’a dan bertaubat kepada Allah.
          Esoknya, tiga sahabatku menunggu di gerbang sekolah. ‘ya Allah, lindungilah aku dan berikan aku kekuatanmu yang tiada tara….Amin’ do’aku dalam hati. “cepat, serahkan buku itu!!” ucap Vikra yang dikendalikan. Aku menggeleng dan berkata, “tidak akan pernah!!”. Mereka pun langsung menyerangku. Tapi, sebelum mereka menyerang, tiba-tiba tanah bergetar seperti gempa. Mereka bertiga pun jatuh. Aku langsung mendekati mereka, tapi mereka menghilang. Tiba-tiba mereka sudah ada dibelakangku dan mendorongku memakai sihir mereka bertiga. Aku terpental. Aku mengunakan kekuatan yang diberikan Allah dan atas izin Allah, aku mementalkan mereka bertiga dengan angin yang sangat kuat dan menabrakanya ke tanah dengan sangat keras. Aku mengikat mereka dengan akar pohon yang sangat kuat. Tiba-tiba, ada sebuah retakan di langit berwarna merah tua. Retakan itu semakin besar dan keluar tangan. Lalu tangan itu menarik tubuhnya ke luar retakan itu. Yang keluar dari retakan itu hanya badan saja, jadi kakinya tak terlihat. Tampak sebuah nenek-nenek berambut gimbal layaknya Genderuwo, memegang tongkat tua dan mulai mngeluarkan petir-petir merah menyala. “akulah tuhan para penyihir, akulah yang paling kuat” teriak Monster itu sombong. “kau mengendalikan tiga sahabatku menjadi gila. Takkan ku maafkan!!” teriakku. “salah kau sendiri, mengapa kau tidak memberikan buku itu!! Hahahahhaha” Monster itu tertawa. Dengan izin Allah, aku diangkat oleh angin dan mendekatkan diriku pada mukannya. Monster itu menggunakan tongkatnya memukulku. Dengan izin Allah, tanganku menjadi kuat dan meninju tongkat itu. Aku langsung berdo’a kepada allah, “Ya Allah, turunkanlah petir kepada Monster ini….” Doaku. Langsung datang banyak petir menghantam wajah Monster. Tiba-tiba dia mengamuk dan melemparkan lima gedung dari dimensi lain. Atas perlindungan Allah, datang angin tornado yang sangat kuat dan mengalihkan arahnya ke arah wajah monster lagi. Monster itu marah dan mengucapkan sumpah serapah tak jelas dan akhirnya dia meledak dan musnah. Langit menjadi cerah kembali. Aku melepas ikatan akr pada sahabat-sahabatku. ‘ya Allah, maafkan aku karena aku hampir musyrik kepadamu. Terimalah tobatku ya Allah’ do’a ku pada Allah. Vikra pun terbangun. “Vin, kamu kenapa? Muka kamu kucel banget. Jelek tahu…hehehehe” ucap Vikra sambil terbangun. Dimas juga terbangun, “kenapa nih? Kok tempatnya ancur banget? Ada apa?” Tanya Dimas sambil ngucek mata. “Di ancurin sama tuhan lo…hahahah” jawabku sambil bercanda. “Tuhan? Allah maksud kamu?” Tanya Dimas. “tuhan sihir lo…masa lo ga inget?” Aku tanya balik. “nggak, emangnya ada apa sih?” Tanya Dimas lagi. Aku menceritakan semuanya. “oh gitu, gue gak akan pernah tuh nyentuh buku itu lagi. Kapok…” reaksi Dimas. Aldy terbangun. “Vin, lo knp? Aneh banget?” Tanya Aldy. “gara-gara ngelawan lo tadi pagi” jawab gue. “eh, lo semua jangan inget-inget lagi mantra atau sihir itu lagi, bahaya!!” ucapku pada semuanya. “emang kenapa?” Tanya Vikra. Aku menceritakan dari mulai aku dan mereka bertiga berlatih di rumahku sampai sekarang. “gue ga nyadar. Seinget gue, pas pulang dari rumah lo, gue pingsan di taman, terus disini deh bangunnya. Aneh…” ucap Vikra. “ahh, udah lah…ga usah di pikirin lagi, yang penting sahabat-sahabat gue selamat semua! Hahahahah”ucapku sambil tertawa. Mereka pun tertawa bersama. “tapi, ngomong-ngomong bukunya mana?” Tanya Dimas. Pertanyaan itu sangat membuat aku kaget. Saat kita semua melihat ke sekeliling, kita semua melihat Bi Sulem sedang tersenyum jahat ke arah kami dan memegang buku mantra itu. Dan dia mulai merapal Mantra Sihir tersebut.

TAMAT

Name         :Muhammad Sidiq Pramono

Kelas          :1 SMP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar